Thursday, April 16, 2009

Part 1: Danniella, Rani, dan Wina

Papan pengunguman yang terletak di depan sekolah, dipenuhi oleh siswa-siswi yang baru memasuki hari pertama tahun ajaran baru di sebuah Sekolah Menengah Atas di pinggiran Jakarta Selatan. Mereka semua berdesakkan mengantri untuk melihat jadwal dan pembagian kelas untuk mereka. Masing-masing dari mereka masih menggunakan seragam SMP yang sebagian besar sudah berwarna putih-kekuningan. Para siswa mencoba menyerobot untuk melihat lebih jelas nama mereka. Sehingga, membuat sedikit kerusuhan yang menyebabkan papan hampir terguling jatuh. Papan tersebut menunjukan daftar 10 kelas yang berisikan nama murid-murid yang akan menghuninya. Setiap kelas akan berisi 28 sampai 30 murid.
"Ah gile nih kalo begindang caranya gue nggak akan bisa ngeliat, bujubuneng. Gelo ah! "Situasi ini ternyata membuat salah satu siswi yang berdesakkan kesal. Ia biasa dipanggil Wina. Wina yang dari tadi berdesakkan dan beradu pundak dengan siswa-siswi yang lain ternyata masih belum bisa melihat namanya di papan pengunguman. Hingga akhirnya ia menyerah dan mundur dari kerumunan orang tersebut. Ia merogoh tasnya dan mengambil sebuah handphone. Dalam hitungan detik, jarinya mulai menari di atas keypad, memainkan sebuah permainan yang ada di dalam handphone-nya. Jari-jari tangannya bermain dengan kecepatan penuh dan lagi-lagi dalam hitungan detik, permainan tersebut selesai dimainkannya. Ia mendangahkan kepalanya melihst kembali kerumunan orang yang masih berada di depan papan pengunguman. Ia lalu menoleh dan melihat salah satu teman smp-nya, Rani. Rani yang sedang menghindar dari kerumunan, menyapa Wina. Ia melambaikan tangannya, "Eh, neng! Bengong aje lu. Lo sekelas kan sama gue."
"Iya apa? Hahaha. Gue belom liat." Wina menjawab pernyataan Rani dan terkekeh dengan jawabannya sendiri.

No comments:

Post a Comment